Oleh Fajar S Pramono
Edukasi Perbankan yang disajikan dalam bentuk obrolan ringan oleh Fajar S Pramono, praktisi perbankan, mulai edisi ini akan tampil kembali. Kumpulan tulisannya yang pernah dimuat di Majalah Wirausaha dan Keuangan telah dibukukan
dan
siap beredar di pasaran akhir November 2009 dengan judul Malu Bertanya
Sesat di Utang dapat diperoleh di semua toko buku di seluruh Indonesi.
Alhamdulillah,
setelah begitu lama tak sempat berkumpul untuk melaksanakan “diskusi
balai kampung” di pendopo, kerinduan akan kehangatan diskusi bersama Bli
Wayan, Bang SInaga dan Uda Mail dapat terwujud kembali malam ini.
“Akhirnya, bisa juga kita berkumpul lagi,” kata Bang Sinaga membuka obrolan.
”Betul, Bang. Padahal sudah cukup lama aku memendam pertanyaan buat Mas Ndoet... hehe,” Uda Mail menimpali.
”Apa itu, Da?” timpal Bli Wayan seketika. Wah, tampaknya diskusi malam ini bakal segera ”memanas”.
Bang
Sinaga menggeser posisi duduknya, mendekat ke arah Uda Mail. Antusiasme
dan rasa penasaran nampak jelas pada raut wajahnya.
Saya sendiri pun, sesungguhnya tak beda dengan Bang Sinaga. Saya pun beringsut mendekat.
Uda Mail cepat tanggap, dan langsung to the point.
“Betul,
Mas Ndoet. Kemarin tetangga toko saya bertanya, kenapa permohonan
kreditnya ditolak, sementara temannya yang berbarengan mengajukan
permohonan bisa dikabulkan. Padahal menurutnya, skala usahanya tak
berbeda jauh.”
Pandangan ketiga sahabat saya beralih kepada saya.
“Ehm,” saya mencoba memulainya dengan berdehem. “Saya tak akan bisa menjawab secara pasti, tanpa tahu kondisi detailnya.” Semua terdiam mendengar jawaban saya.
”Tapi
begini,” sambung saya demi melihat kevakuman yang terjadi, ”Saya akan
bicara hal yang mendasar saja. Bahwa, hanya ada dua kondisi dari empat
kondisi usaha saja yang layak mendapat pembiayaan atau kredit dari
bank.”
”Apa saja itu, Mas?” sahut Bang Sinaga cepat.
“Empat kondisi usaha?! Seperti apa itu, Mas?” Uda Mail pun menyahut tak kalah cepat.
Saya tersenyum. Saya paling senang kalau ada antusiasme dalam sebuah diskusi.
”Kondisi usaha bisa dibagi menjadi empat kelompok,” saya meneruskan.
”Pertama,
diistilahkan sebagai kelompok ’Star’. Usaha seseorang yang masuk
kelompok ini adalah usaha yang masih dalam posisi terus berkembang alias
growth, kuat dalam persaingan, tingkat return atau
kemampuan menghasilkan labanya juga tinggi, bahkan memungkinkan untuk
melakukan investasi baru. Usahanya sehat dan masih bisa tumbuh.”
Saya mengambil jeda sejenak, sekaligus menunggu tanggapan. Tapi tak ada respon yang menyela, sehingga saya pun meneruskan.
”Kedua,
kelompok ’Cash Cows’. Usaha yang tergolong pada kelompok ini masih
bagus, kuat bersaing, mampu menghasilkan laba yang tinggi, dan
memungkinkan adanya investasi. Tapi sesungguhnya, prospek untuk
meningkatkan sales atau penjualan sudah mulai sangat terbatas.
Atau bahkan boleh dikatakan stagnan. Omzet dari periode ke periode sudah
tak bisa bertambah. Bisa karena pasar yang terbatas, bisa juga karena
kemampuan internal usaha atau si pengusaha yang tak mendukung.”
Saya mengambil nafas panjang, dan kemudian diam.
”Yang ketiga dan keempat, Mas?” Bang Sinaga tampak tak sabar. Saya tersenyum lagi.
”Nggak sabar ya, Bang? Hehe.... Yang ketiga, kelompok ’Dogs”.
”Dogs?” desis Bli Wayan.
”Itu
sekedar istilah, Bli. Jangan diartikan secara harfiah...,” kata saya
sembari melebarkan senyum. ”Di kelompok ini, pendapatan dari usaha sudah
lebih kecil dari biaya operasionalnya. Ia sudah mulai merugi, tapi
sesungguhnya masih punya kemungkinan untuk dikembangkan lagi, karena
sebenarnya peluang pasarnya masih ada. Tapi ini perlu effort yang cukup besar. Misalnya dengan divestasi atau penjualan sebagian aset.”
”Ooo... begitu ya. Yang keempat?” respon Bli Wayan.
”Yang terakhir, kelompok ’Question Marks”. Tanda tanya. Nggak jelas,” kata saya.
Saya
sengaja diam, untuk memancing rasa penasaran teman-teman, sampai
akhirnya, ”Apanya yang nggak jelas, Mas?” suara Bang Sinaga yang
mengedepan.
”Iya,
nggak jelas. Maksudnya, nggak jelas lagi kemampuannya untuk bisa
menangkap peluang pasar. Cash flownya juga sudah negatif. Gampangnya,
usahanya sudah rugi, dan sangat kecil kemungkinannya untuk bisa eksis
kembali.”
Ketiga sahabat saya mengangguk-angguk.
”Lalu,
apa hubungannya dengan penolakan pihak bank ke tetangga toko saya tadi,
Mas?” ujar Bli Wayan, mengingatkan permasalahan utama diskusi ini.
”Nha, begini,” saya mulai menerangkan kembali.
“Pada prinsipnya, pihak bank hanya akan bersedia membiayai dua dari keempat kelompok kondisi usaha tersebut. Yang mana kira-kira, Bang?” saya meminta respon dari Bang Sinaga.
“Hmm..., ya yang pertama dan yang kedua lah. Yang ‘Star’ sama yang... eh, yang apa itu, Mas? Yang kedua?” jawab Bang Sinaga balik bertanya.
”Betul!” kata saya senang, ”yang ’Star” dan yang ”Cash Cows”, Bang.”
”Nha... itu.... ’Cash Cows’!” sahut Bang Sinaga lagi.
Mengangguk-angguk
membenarkan, saya melanjutkan, ”Nah, di kedua tipe kondisi itulah bank
’bermain’, alias menyalurkan kreditnya. Kenapa? Karena bank butuh
kepastian repayment capasity atau kemampuan membayar kembali
dari si nasabah. Bahkan, untuk tipe ’Star’, bank perlu meyakinkan
dirinya bahwa usaha si nasabah akan bisa berkembang lebih cepat dari
sebelumnya, karena itu yang menjadi tujuan pemberian kreditnya.”
”Nah, sekarang coba kita tengok sendiri. Jika kita pengusaha, masuk ke kelompok yang manakah kita?” kata saya pada akhirnya.
Uda
Mail manggut-manggut. Tampaknya ia mulai ’menilai’ kondisi tetangga
tokonya, dibandingkan dengan kondisi teman tetangga tersebut, dan juga
kondisi usahanya sendiri –mungkin--. Ia tampak akan menanyakan sesuatu
kembali, ketika Bang Sinaga lebih dahulu memecah keheningan yang
tercipta. ”Hey, dari tadi kita belum pesen minum nih!”
”Cak
Rifaaaan....!!!” akhirnya, justru suara Bang Sinaga yang terdengar,
memanggil satu sahabat lagi yang selama ini tak pernah lelah menemani
diskusi-diskusi kami dengan mak nyus-nya minuman dan makanan kecil yang
dijualnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar